Kamis, 01 November 2012

Laporan PTK IPA Kelas IV SD Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas IV SDN 1 Sukajaya Tentang Struktur Tumbuhan Mata Pelajaran IPA Melalui Metode.


Laporan PTK IPA Kelas IV SD 
Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas IV SDN 1 Sukajaya Tentang Struktur Tumbuhan Mata Pelajaran IPA Melalui Metode.


BAB I
PENDAHULUAN



    Latar Belakang Masalah
Berdasarkan hasil pengalaman guru kelas IV di SD Negeri 1 Sukajaya, bahwa pembelajaran IPA masih menekankan pada konsep-konsep yang terdapat di dalam buku, dan juga belum memanfaatkan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran secara maksimal. Mengajak siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan jarang dilakukan. Guru IPA sebagian masih mempertahankan urutan-urutan dalam buku tanpa memperdulikan kesesuaian dengan lingkungan belajar siswa. Hal ini membuat pembelajaran tidak efektif, karena siswa kurang merespon terhadap pelajaran yang disampaikan. Maka pengajaran semacam ini cenderung menyebabkan kebosanan kepada siswa.
Para siswa telah memiliki kemampuan awal yang telah diterima di kelas sebelumnya. Kemampuan awal siswa ini harus digali agar siswa lebih belajar mandiri dan kreatif, khususnya ketika mereka akan mengkaitkan dengan pelajaran baru. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih mendekatkan pada lingkungan siswa. Konsep-konsep yang dikembangkan sebaiknya berhubungan dengan alam sekitar agar menjadi konteks pembelajaran yang bermakna. Meskipun demikian mengaitkan konteks lingkungan dalam kehidupan sehari-hari dengan isi materi bukan pekerjaan yang mudah, karena perlu waktu dan proses yang panjang. Namun kenyataannya guru cenderung mengikuti isi kurikulum dan anak belajar secara verbal, keadaan semacam ini jauh dari konsep belajar bermakna.
Belajar bermakna menuntut adanya konteks pembelajaran yang muncul di lingkungan tempat tinggal siswa, hal ini dapat dilakukan dengan jalan mengajak siswa belajar di luar kelas atau mengajak mereka mendekati sumber belajar. Maksudnya agar diperoleh ide-ide, dan masalah-masalah yang dapat dilihat dan diamati di lingkungan sekitarnya. Pola pembelajaran seperti ini akan membantu siswa dalam proses berpikir dan pada gilirannya siswa aktif dalam belajar. Pada dasarnya siswa sendiri yang akan menyelesaikan masalah-masalah yang dia dapatkan sesuai dengan konsep materi yang dipelajari. Salah satu konsep yang akrab dengan lingkungan adalah konsep kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi keseimbangan alam. Konsep ini menjadi lebih bermakna jika di dalam pelajaran siswa diajak langsung kelapangan untuk melakukan penyelidikan terhadap permasalahan yang mereka hadapi.
Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning) selanjutnya disingkat dengan PBL, yang akan memberikan motivasi siswa untuk melakukan pemecahan masalah pada masalah-masalah nyata dalam kehidupan yang mereka hadapi serta merangsang siswa untuk menghasilkan sebuah produk/karya (Singletary, 2000:34). Secara garis besar PBL menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan inkuiri. PBL berpusat kepada siswa mendorong inkuiri terbuka dan berpikir bebas yang dikemukakan dalam bentuk laporan, karya yang akan dijadikan bahan evaluasi sehingga membantu siswa untuk menjadi mandiri. Hasil penelitian Rahmi (2005:65) menunjukkan bahwa dengan menggunakan pendekatan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa dan dapat mengoptimalkan respon siswa selama proses pembelajaran. Namun Pendekatan PBL masih belum dikenal di sekolah SD Negeri 1 Sukajaya sehingga guru belum pernah menggunakan pendekatan ini, dengan mempertimbangkan usaha-usaha agar siswa dapat belajar dengan menyenangkan dan memperoleh manfaat besar sesuai dengan kebutuhan kurikulum maka perlu dilakukan penelitian tentang upaya meningkatkan proses dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah.

    Identifikasi Masalah
Memperhatikan situasi di atas, kondisi yang ada saat ini adalah
1.    Guru belum terampil mengemas sebuah pembelajaran menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).
2.    Guru belum terampil memilih metode atau pendekatan yang sesuai dengan pembelajaran
3.    Pendekatan PBL masih belum dikenal di sekolah SD Negeri 1 Sukajaya sehingga guru belum pernah menggunakan pendekatan ini.
    Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang baru selesai didiskusikan dengan teman sejawat dan supervisior diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran adalah :
    Tidak semus siswa mampu memahami konsep struktur bagian tumbuhan dan fungsinya.
    Kurang sistematisnya pelaksanaan metode demonstrasi sehingga siswa kurang memahami metode pengamatan langsung.
    Prioritas dan alternatif masalah
Dari uraian diatas peneliti sebagai guru kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya melakukan penelitian dengan judul “Upaya meningkatkan pemahaman siswa IV SDN 1 Sukajaya tentang struktur tumbuhan mata pelajaran IPA melalui pembelajaran berdasarkan masalah” menerapkan metode pembelajaran berdasarkan masalah dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi struktur bagian tumbuhan dan fungsinya pada mata pelajaran IPA.

    Rumusan Masalah
Dari Penelitian Tindakan Kelas masalah yang perlu dipecahkan adalah sebagai berikut : “Apakah Penggunaan Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah Dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa IV SDN 1 Sukajaya Tentang Struktur Tumbuhan Mata Pelajaran IPA?”.

    Tujuan Perbaikan
Lapora Peneitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlansung dalam 2 siklus ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang struktur bagian tumbuhan dan fungsinya dengan menerapkan metode pembelajaran berdasarkan masalah di kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin.

    Manfaat Perbaikan
Dari perbaikan pembelajaran yang ditempuh dalam dua siklus, maka penulis menemukan adanya manfaat dari perbaikan pembelajaran tersebut, manfaat perbaikan itu adalah :
    Manfaat bagi guru.
Memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya, karena dengan adanya perbaikanakan menimbulkan rasa puas karena sudah melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
b.     Manfaat bagi siswa
Dengan adanya perbaikan pembelajaran maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
c.     Manfaat bagi sekolah
Sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri guru telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk siswa. Sekolah yang para gurunya sudah mampu membuat perbaikan mempunyai kesempatan yang besar untuk berkembang pesat.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA


    Permasalahan Pembelajaran IPA
Pembelajaran IPA bagi sebagian guru cenderung diajarkan secara konseptual saja, bersifat hafalan dan kurang mementingkan proses pemahaman dan pembinaan konsep. Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali seperti di sekolah, di halaman, di perpustakaan, di pedesaan dan sebagainya. Sarifuddin dan Winataputra (1999:65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi 5 kategori yaitu manusia, buku/perpustakaan, media masa, alam lingkungan dan media pendidikan. Namun guru biasanya kurang tertarik menggunakan media sebagai sumber belajar seperti halnya mengajak siswa keluar lingkungan sekolah karena berbagai faktor diantaranya waktu yang terbatas, bobot materi terlalu banyak serta keterbatasan guru dalam mengembangkan inovasi pembelajaran padahal sumber belajar cukup kaya di lingkungan siswa tinggal.
Melalui kurikulum berbasis kompetensi diharapkan pola pembelajaran yang disampaikan dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Menanamkan sikap ilmiah kepada siswa dan melatih siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya secara ilmiah (Subianto, 1990:28). Pada gilirannya siswa aktif dalam belajar karena pada dasarnya siswa sendiri yang akan menyelesaikan masalah-masalah yang dia dapatkan sesuai dengan konsep materi yang dipelajari dengan bantuan media sebagai sumber belajar siswa.
Konsep Kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi keseimbangan alam dalam KTSP 2006 Standar Kompetensi: Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dan fungsinya. Kompetesi Dasar : Menjelaskan hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan fungsinya. Indikator :
1.     Membedakan Jenis, struktur dan fungsi Akar.
2.     Membedakan Jenis, struktur dan fungsi Akar.
3. Membedakan Jenis, struktur dan fungsi Akar.
Di dalam KTSP IPA SD tahun 2006 indikator adalah acuan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran. Acuan ini bukan sesuatu yang mutlak dilaksanakan, hal ini disebabkan pembelajaran lebih menekankan pada “bagaimana menyediakan dan memperkaya belajar siswa”, bukan “apa yang akan dipelajari” Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lain.

    Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan salah satu bentuk pengajaran yang memberikan penekanan untuk membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom. Melalui bimbingan yang diberikan secara berulang akan mendorong mereka mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah konkrit oleh mereka sendiri serta menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000).
Menurut Arends (1997:156), model PBL sangat berguna untuk mengembangkan berpikir ke tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah, termasuk belajar bagaimana belajar. Model pengajaran ini cocok untuk materi pelajaran yang terkait erat dengan masalah nyata, meningkatkan keterampilan proses untuk memecahkan masalah, mempelajarai peran orang dewasa melalui pengalamannya dalam situasi yang nyata, serta melatih siswa untuk berdiri sendiri sebagai pebelajar yang otonom.
Pada pelajaran IPA, PBL merupakan salah satu pembelajaran yang cukup menarik dan sudah siap untuk digunakan, pembelajaran berdasarkan masalah mengajak siswa-siswa dalam penyelesaian kasus permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan IPA, meningkatkan minat diskusi di antara siswa dan mendorong kegiatan belajar. Satu lingkungan yang menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada praktik kerja/magang dan mampu membentuk para pembelajar untuk belajar dari sendiri, pembelajaran berdasarkan masalah juga lebih baik dari pada satu lingkungan yang menggunakan proses pembelajaran mimetis dimana siswa hanya melihat, mengingat, dan mengulang apa yang sudah mereka katakan (Osmundsen, 2001).
Peranan guru dalam PBL adalah untuk mengajukan permasalahan, pertanyaan, dan menyediakan fasilitas yang diperlukan siswa. Arends (1997:156) menekankan pentingnya guru memberi scaffolding berupa dukungan dalam upaya meningkatkan inkuiri dan perkembangan intelektual siswa. Oleh karena itu dalam pengajaran berdasarkan masalah diperlukan untuk menyajikan kepada siswa pada situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan bantuan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Menurut Arends (1997:161) PBI terdiri dari 5 tahapan utama yang dimulai oleh guru dengan orientasi dengan masalah pada siswa dan diakhiri dengan suatu penyajian dan analisis hasil dari kerja siswa, kelima tahapan tersebut sebagai berikut :
Tahap-1 Orientasi siswa kepada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Tahap-2     Mengorganisasi siswa dalam belajar Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3     Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi sesuai yang diperlukan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4     Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan pameran Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai yakni diagram futures wheels dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap-5     Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelesaian mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
(Sumber: Arends, 1997)

Kelancaran proses dalam pembelajaran berdasarkan masalah ini memerlukan perangkat penunjang. Perangkat penunjang tersebut dapat berupa buku paduan siswa, RP, LKS, media yang digunakan yakni lingkungan sekitar sekolah.

    Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka pemecahan masalah dan gambaran pola pemecahannya melalui tahapan:
    Guru belum terampil mengemas sebuah pembelajaran menjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).
    Guru belum terampil memilih metode atau pendekatan yang sesuai dengan pembelajaran.
    Pendekatan PBL masih belum dikenal di sekolah SD Negeri 1 Sukajaya sehingga guru belum pernah menggunakan pendekatan ini.

Penerapan Pendekatan PBL
1.     Guru mampu menerapkan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah
2.     Aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat
3.     Hasil pembelajaran meningkat

    Hakekat Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran IPA
Dalam bagian ini diuraikan tentang hakekat hasil belajar dan aktivitas siswa sebagaimana berikut ini:
    Hakekat Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan S. Nasution berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai materi atau belum. Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Cullen, 2003 dalam Fathul Himam, 2004:102).
Hasil belajar dapat dilihat dari hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah semester (sub formatif) dan nilai ulangan semester (sumatif). Dalam penelitian tindakan kelas ini, yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran IPA. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester. Tujuan ulangan harian untuk memperbaiki modul dan program pembelajaran serta sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.

    Hakekat Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktivitas siswa yaitu meningkatnya jumlah siswa yang terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas materi pembelajaran. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.
Indikator aktivitas siswa dapat dilihat dari : pertama, mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran; kedua, aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa; ketiga, mayoritas siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam LKS melalui pendekatan pembelajaran berdasarkam masalah
( Problem Based Learning).





























BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN


    Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian
    Subjek Penelitian
Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya dengan jumlah siswa 15 orang, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan.

    Tempat Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian di SD Negeri 1 Sukajaya yang terletak pada jalan raya Palembang-Jambi KM 222 Desa Mekar Jaya Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin. Yang mana tempat penelitian ini merupakan tempat peneliti mengajar, sehingga peneliti sudah mengetahui keadaan sekolah ini, serta bertujuan memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar  siswa tentang bilangan bulat yang selama ini hasil belajar siswanya masih rendah atau kurang.

    Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2012 semester genap tahun ajaran 2011/2012, waktu penelitian disesuai dengan jadwal pelajaran di kelas tersebut. Jadwal pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut :
No    Hari/Tanggal    Mata Pelajran    Kegiatan
1.    Selasa, 11 September 2012    IPA    Prasiklus
2.    Selasa, 18 September 2012    IPA    Siklus I
3.    Selasa, 25 September 2012    IPA    Siklus II

     Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari siswa kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya dan teman sejawat.
    Siswa, untuk mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
    Teman sejawat, sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprehensif, baik dari siswa maupun guru.

    Desain Prosedur Penilaian Pembelajaran
Upaya perbaikan pembelajaran akan dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlangsung 2 siklus (Prasiklus, Siklus I, Siklus II) dalam tiap siklus kegiatan yang dilakukan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Kegiatan yang menjadi penelitian dalam Perbaikan Pembelajaran Matematika adalah penggunaan media gambar.
Selanjutnya Rencana Tindakan pada setiap siklus disusun dalam bentuk Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) I dan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) II serperti tertera pada lampiran.

    Masa Prasiklus (Orientasi)
Dari hasil diskusi dengan teman sejawat dan hasilnya dikonsultasikan dengan pimbimbing dapat disimpulkan :
    Tidak semua siswa memahami tentang struktur bagian tumbuhan dan fungsinya.
    Pada saat pembelajaran siswa kurang perhatian terhadap materi pelajaran.
    Hasil belajar siswa sangat rendah.
    Keterampilan penggunaan medua kurang sistematis.

    Siklus I
    Rencana
Rencana tindakan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut :
    Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) I dengan materi “Hubungan antara struktur batang tumbuhan dengan fungsinya”.
    Menyiapkan alat evaluasi.
    Menyiapkan lembar observasi.
    Pelaksanaan
Pada pelaksanaan Siklus I dilaksanakan pada tanggal 18 September 2012 dengan materi hubungan antara struktur batang tumbuhan dengan fungsinya. Yang dilakukan pada tahap ini, antara lain :
    Memberi petunjuk dan penjelasan tentang materi pelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah.
    Memberikan motifasi agar siswa aktif belajar.
    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru, atau pertanyaan dari siswa lain.
    Menanggapi atau menjawab pertanyaan yang diajukan siswa.
    Melakukan observasi terhadap aktivitas belajar siswa.

    Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan atau observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan oleh satu orang pengamat (observer) atau teman sejawat, yaitu Ibu Sugiarti, S.Pd. yang merupakan salah satu guru di SD Negeri 1 Sukajaya. Hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran siklus I dapat dilihat pada lampiran.

    Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan (observer) dan diskusi dengan teman sejawat terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I diperoleh temuan bahwa media pembelajaran yang digunakan / dibuat oleh guru kurang jelas. Untuk itu siswa harus bisa melakukan observasi sendiri-sendiri dalam mengamati secara langsung. Sehingga melalui pengamatan tersebut, siswa akan mendapat gambaran yang jelas tentang materi pelajaran.




    Siklus II
    Rencana
Rencana tindakan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut :
    Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) II dengan materi “Struktur, bagian-bagian dan fungsi daun bagi tumbuhan (fotosintesis)”.
    Menyiapkan Lembar Kerja Siswa dan kelompok.
    Menyiapkan alat evaluasi dan lembar observasi.

    Pelaksanaan
Pada pelaksanaan Siklus II dilaksanakan pada tanggal 25 September 2012 dengan materi struktur, bagian-bagian dan fungsi daun bagi tumbuhan (fotosintesis). Yang dilakukan pada tahap ini, antara lain:
    Memberi petunjuk dan penjelasan tentang materi pelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media.
    Memberikan motifasi agar siswa aktif belajar.
    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru, atau pertanyaan dari siswa lain.
    Menanggapi atau menjawab pertanyaan yang diajukan siswa.
    Melakukan observasi terhadap aktivitas belajar siswa.

    Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan atau observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan oleh satu orang pengamat (observer) atau teman sejawat, yaitu Ibu Sugiarti, S.Pd. yang merupakan salah satu guru di SD Negeri 1 Sukajaya. Hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran siklus I dapat dilihat pada lampiran.

    Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan (observer) dan diskusi dengan teman sejawat terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II diperoleh temuan bahwa metode pembelajaran berdasarkan masalah siswa merasakan hal yang baru dalam pembelajaran.
Pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah membawa dampak yang positif terhadap pembelajaran. Melalui pengamatan demonstrsi, siswa mendapatkan gambaran yang jelas tentang materi pembelajaran.

    Teknik Analisis Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dan observasi.
    Tes
Digunakan untuk mendapatkan data tentang kemampuan siswa menyelesaikan soal tentang materi opreasi pengurangan bilangan bulat.
    Observasi
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar dan implementasi dari media garis bilangan.

















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


    Deskripsi Persiklus
    Hasil Pengolahan Data
Bagian ini memuat data dan pengolahan data yang diperoleh berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil evaluasi yang dilakukan dalam proses pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri 1 Sukajaya.
Hasil observasi yang dilakukan guru terhadap aktivitas siswa sebelum perbaikan pembelajaran dan setelah pembelajaran tersaji pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1
Aktivitas Belajar Siswa Kelas IV
Sekolah Dasar Negeri 1 Sukajaya
Dalam Pembelajaran IPA
No    Keterlibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran    Prasiklus    Siklus I    Siklus II
        Jumlah
Siswa    %    Jumlah
Siswa    %    Jumlah
Siswa    %
1.    Terlibat aktif    4    27%    8    53%    12    80%
2.    Terlibat pasif    7    47%    4    27%    3    20%
3.    Tidak terlibat    4    27%    3    20%    0    0%
Jumlah     15    100 %    100%    100 %    100%    100 %

Keterangan :
    Terlibat aktif, artinya siswa menyimak dengan sungguh-sungguh, aktif bertanya, dan menjawab pertanyaan dengan benar tentang materi pelajaran.
    Terlibat pasif, artinya siswa menyimak dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak aktif bertanya dan menjawab pertanyaan seadanya.
    Tidak terlibat, artinya siswa duduk dan diam saja, tidak mau bertanya maupun menjawab pertanyaan.
Berdasarkan tabel 4.1 di atas terlihat bahwa jumlah siswa dan prosentase siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran sebelum perbaikan pembelajaran dan setelah perbaikan pembelajaran menunjukkan adanya kenaikan. Sebelum perbaikan pembelajaran siswa yang terbilang aktif hanya 4 orang (27 %) kemudian naik menjadi 8 orang (53 %) pada siklus I, dan 12 orang (80 %) pada siklus II. Hal ini berarti pula bahwa aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran IPA mengalami peningkatan.
Peningkatan aktivitas siklus pembelajaran lebih jelas tersaji pada diagram 4.1 berikut.
Diagram 4.1
Aktivitas Belajar Siswa Kelas IV
Sekolah Dasar Negeri 1 Sukajaya
Dalam Pembelajaran IPA











Hasil evaluasi yang dilakukan guru sebelum perbaikan pembelajaran dan pada setiap siklus pembelajaran tersaji pada tabel 4.2 hasil belajar siswa (tabel terlampir).

    Observasi
Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA menunjukkan adanya peningkatan dari satu siklus kesiklus pembelajaran ke siklus pembelajaran berikutnya. Keadaan sebelum perbaikan pembelajaran, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar atau memperoleh nilai Standar Kentutasan Belajar Minimum (SKBM) ≥ 63 baru mencapai 4 orang (27 %) kemudian meningkat menjadi 9 orang (60 %) pada siklus I, 13 orang (87 %) pada siklus II. Dari data di atas maka pelaksanaan pembelajaran IPS bisa dikatakan berhasil dan cukup memuaskan dikarenakan delah memenuhi ketuntasan belajar secara clasical, yaitu 87 % dari standar ketuntasan belajar clasikal ≥ 85 % siswa mencapai nilai ≥ 63.
Peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dari keadaan sebelum perbaikan pembelajaran ke setiap siklus pembelajaran secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2 dan diagram 4.2 berikut.
Tabel 4.3
Ketuntasan hasil belajar siswa
Ketuntasan    Prasiklus    Siklus I    Siklus II
    Anka    (%)    Anka    (%)    Anka    (%)
Tuntas     4    27%    9    60%    13    87%
Tidak tuntas     11    73%    6    30%    2    13 %
Jumlah     15    100%    15    100%    15    100%

Diagram 4.2
Hasil Belajar Siswa Kelas IV
Sekolah Dasar Negeri 1 Sukajaya
Dalam Pembelajaran IPA



   






    Refleksi
Berdasarkan evaluasi hasil belajar IPA di kelas IV sebelum perbaikan pembelajaran terlihat jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 63 hanya 4 orang atau 27 % dan hanya 4 siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran. Hai ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kurang memuaskan, belum memenuhi target yang diinginkan. Dari hasil observasi dan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan kemudian dilakukan diskusi dengan supervisior dan teman sejawat diperoleh temuan sebagai berikut :
Guru tidak menggunakan media pembelajaran. Sehubungan dengan itu maka dilakukan upaya perbaikan pembelajaran dengan fokus pada pengamatan secara langsung. Proses pembelajaran berikut dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus.
Pada pembelajaran siklus I dilakukan upaya perbaikan pembelajaran dengan melakukan pengamatan secara langsung pada alam sekitar. Hasil observasi dan hasil evaluasi pada siklus I menunjukkan adanya kenaikan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran sebanyak  8 orang (53 %) dan 9 orang (60 %) memperoleh nilai ≥ 63. Walaupun telah menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar maupun hasil belajar siswa, namun pembelajaran belum dapat dikatakan berhasil dengan kata lain hasil pembelajaran masih kurang memuaskan. Hasil observasi dan refleksi terhadap pembelajaran siklus I diperoleh temuan bahwa kegiatan pembelajaran masih kurang efektif sehingga mengaburkan pemahaman bagi siswa. Sehubungan dengan itu maka dilakukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II melalui pengamatan berdasarkan masalah.
Dengan menggunakan tindakan ini terlihat bahwa sebagian besar siswa 12 orang (80 %)  terlibat aktif dalam pembelajaran dan hanya 3 orang (20 %) terlihat secara pasif aktif dalam pembelajaran. Hasil belajarnya mencapai ketuntasan sebanyak 87 % atau 13 siswa memperoleh nilai ≥ 63. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar maupun hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada siklus I maupun siklus II. Dari tersebut maka pelaksanaan pembelajaran IPA bisa dikatakan berhasil dan cukup memuaskan dikarenakan delah memenuhi ketuntasan belajar secara clasical, yaitu 87 % dari standar ketuntasan belajar clasikal ≥ 85 % siswa mencapai nilai ≥ 63.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I dan II telihat bahwa fokus perbaikan pembelajaran adalah meningkatkan hasil belajar siswa atau meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPA dapat tercapai.

    Pembahasan dari Setiap Siklus
    Rencana Pembelajaran (Orientasi)
Pada umumnya siswa dapat belajar dengan baik karena didukung dengan lingkungan yang baik. Dalam pelaksanaan banyak siswa yang belum bisa memahami konsep tentang sturktur tumbuhan dan fungsinya. Di akhir pembelajaran ternyata hasil belajar siswa sangat rendah. Kemudian bersama teman sejawat mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan pembelajaran sebagai acuan perbaikan pembelajaran pada siklus I.

    Siklus I
Dengan mengingat kelemahan pada pembelajaran sebelumnya serta saran dari teman sejawat dan supervisior. Praktik menggunakan media lingkungan setempat sebagai tempat pengamatan. Siswa dimotivasi untuk aktif dalam arti siswa mau dibimbing secara individu, dan secara berulang. Dengan penggunaan media yang benar dapat diharapkan mampu meningkatkan prestasi siswa.

    Siklus II
Perencanaan yang baik akan mempengaruhi jalanya proses pembelajaran yang baik. Brown dalam (Pujiati 2005:23) mengatakan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran. Sehingga pada siklus II ini pelaksanaan pembelajaran ditekankan pada pemantapan penggunaan lingkungan sekitar sebagai media. Siswa diberi kesempatan yang luas untuk mengamati secara langsung dan memecahkan masalah yang terjadi, supaya daya ingat tetap baik, yang pada akhirnya mampu meningkatkan pemahaman.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT


    Kesimpulan
Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran IPA sangat dibutuhkan agar minat belajar anak dan pemahaman siswa meningkat. Selain dari itu penggunaan alat juga meningkatkan motivasi belajar siswa. Pembelajaran IPA dengan penggunaan media lingkungan merupakan salah satu alternatif dalam menyampaikan materi pelajaran IPA di sekolah dasar karena dengan penggunaan alat peraga siswa akan lebih mudah memahami konsep IPA dan tantangan belajar, serta dapat menumbuhkan rasa senang siswa untuk belajar IPA, siswa  tidak merasa bosan terhadap pembelajaran dan siswa tidak merasa takut lagi terhadap pembelajaran IPA.
Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
    Pada siklus pertama dari hasil tes, jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥63 baru mencapai 9 orang atau 60 %. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan siklus pertama belum memenuhi target yang diinginkan.
    Pada siklus kedua terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa, yang telah mencapai target yang diinginkan yaitu 80 %. Dari 15 jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 63 sebanyak 13 orang (87 %).

    Saran Tindak Lanjut
Dalam kesimpulan ini penulis memberikan saran-saran, sehubungan dengan pentingnya penggunaan media dengan tepat dan benar.
    Tenaga pendidik hendaknya mampu memilih metode yang sesuai dengan pokok bahasa serta materi pembelajaran yang diajarkan.
    Melalui media lingkungan setempat dan pembelajaran berdasarkan masalah sangat efektif dan membantu guru dalam meningkatkan pemahaman siswa sehingga bagi para guru bisa mencoba mempraktikan dalam proses belajar mengajar di sekolah.
    Mengembangkan keterampilan dalam penerapan metode pembelajaran.
    Tenaga pendidik hendaknya membuka diri meminta atau mencari masukan dalam meningkatkan pembelajaran melalui teman sejawat, kegiatan KKG.
    Dengan bimbingan guru siswa mampu meningkatkan hasil pembelajaran.




























DAFTAR PUSTAKA



Arends. 2006. Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

Darmodjo, Hendro 1992. Pendidikan IPA. Jakarta : BP2 GSD-Dirjen Dikti.

Drijen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Ibrahim, Nur. 2006. Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta ; Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

Nawai, Hadari 1991. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada Perss.

Osmundsen.  2001. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Perss.

Sarifuddin, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional.


Udin S. Winataputra, Dkk. 2003. Setrategi Belajar Mengajar.
Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani, Igag. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.












0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by John Ady Susilo | Bloggerized by Dietha Computer's | Hot Deal