Guru, Pahlawan yang Sebenarnya


 
Tas hitam dari kulit buaya…
Selamat pagi!” berkata Bapak Oemar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!
Tas hitam dari kulit buaya…
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu, murid bengalmu mungkit sudah menunggu…

(Lirik lagu Iwan Fals - Guru Oemar Bakri)
*      *      *
Saat masih kecil, jika ditanyakan cita-cita saat besar nanti, saya pasti langsung menjawab tiga hal. Menjadi petualang, menjadi Guru, dan menjadi seorang sejarawan. Entah mengapa, semenjak dahulu tiga cita-cita tersebut masih terpatri di ingatan saya sampai saat ini.
Meski hanya bisa meraih yang pertama, yaitu menjadi seorang petualang, atau dengan arti lain seorang yang bebas berkelana di perantauan saat masih bekerja di pertambangan. Namun, hingga kini impian menjadi  Guru dan seorang sejarawan, belum juga padam.
Berbicara mengenai profesi Guru, ingatan saya langsung terlintas ketika pagi tadi, Minggu (05/08) membaca sebuah postingan yang berjudul Harus Kaya Jika Ingin Jadi Guru. Berawal saat tertarik melihat sebuah tautan di lini masa twitter seorang Kawan, saya pun langsung mencoba menelaah kalimat “kaya hati dan kaya ilmu” di artikel tersebut yang maknanya sungguh dalam.
Mau Kaya, Jangan Jadi Guru!
Sewaktu pertama kali masuk sekolah berseragam putih biru, adagium klasik “Mau Kaya, Jangan Jadi Guru” begitu membekas di ingatan saya dan beberapa murid lainnya. Bayangan bahwa seorang Guru itu hidupnya pas-pasan, atau ibarat kata Gaji Sebulan habis Seminggu, membuat saya sempat emoh untuk menjadi seorang Guru.
Tetapi seiring berjalannya waktu, saat menginjak pembagian rapor di caturwulan tiga (dulu belum diterapkan sistem semester), bayangan tentang Guru yang awalnya “suram” langsung berubah drastis. Pasalnya, ketika naik-naikan kelas, hampir semua mata tertuju pada satu sosok, Guru!
Saat itu, dengan bijaknya Guru saya memberikan pengertian pada Orang tua murid, ketika anaknya mendapat nilai jeblok atau tidak naik kelas. Dengan sabar, Guru saya itu menjabarkan  jika seorang murid nilainya kurang bagus atau dulu dikenal dengan rapor kebakaran. Maka yang yang merasa bersalah dan disalahkan bukan si murid itu sendiri ataupun Orang tua/ keluarganya, melainkan Gurunya itu sendiri.
Dengan gayanya yang simpatik, Guru saya yang saat itu (akhir dekade 90-an) masih berusia kepala tiga, tampak sebagai seorang yang Mendidik, dan bukan hanya mengajar. “Di Sekolah, seorang murid itu tanggung jawab kami sebagai Guru. Maka, baik buruknya anak Ibu/ Bapak, tentu berkaitan langsung dengan peran kami. Jika si murid nilainya bagus, pasti karena ia adalah orang yang tekun belajar. Namun bila, si murid nilainya buruk, bahkan tinggal kelas, tentu kami yang kurang becus dalam Mendidik dan Mengajar,” ujar sang Guru.
Itulah kalimat yang kalau tidak salah dan tidak lupa, masih terbayang di ingatan saya kendati telah lewat belasan tahun lamanya. Setelah beberapa waktu menyelami apa yang disebutkan beliau, saya baru mengetahui tentang mengapa Guru itu lebih mendahulukan menyebut kata “Mendidik” dibanding “Mengajar”. Meski artinya sama, namun makna yang terkandung cukup jauh berbeda.
Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa…
Terbayang saat itu, Guru saya yang masih muda begitu terlihat gagah, berdiri di depan kelas saat mengajar. Kemudian bersikap ramah ketika ada Orang tua murid yang melakukan protes atau mengeluh tentang anaknya. Atau saat ia memaksakan masuk sekolah untuk memberi pelajaran ketika tangan dan pakaiannya belepotan oli akibat sepeda motor lawas yang dikendarainya mogok hingga membuatnya terpaksa memperbaiki dan mendorongnya sampai sekolah.
Kalau mengingat hal seperti itu, tidak terbayang bagaimana pengorbanan seorang Guru untuk mendedikasikan hidupnya. Pantas saja jika Jepang lebih maju daripada Indonesia, sebab menurut apa yang saya dengar dari beberapa kawan yang tinggal di sana, negeri matahari terbit itu sangat menghormati profesi seorang Guru. Seperti pasca perang dunia kedua saat negara mereka luluh-lantah, yang paling diselamatkan secara prioritas adalah Guru. Dan, beberapa dekade kemudian berkat peranan Guru, akhirnya bisa membuat maju dari negara yang miskin sumber daya alam tersebut.
Beruntung, dengan berkembangnya zaman yang diiringi pesatnya teknologi, saat ini taraf hidup seorang Guru telah meningkat dibandingkan belasan tahun lalu. Meski tidak dapat dikatakan kaya, setidaknya banyak Guru yang saya kenal, termasuk di Kompasiana, dapat dikatakan sejahtera.
“Kalo jadi Guru, kita jangan ngarepin kaya, karena seorang Guru itu mengemban kewajiban untuk menyampaikan ilmu. Tetapi boleh dibilang kalo jadi Guru itu sejahtera, sebab selain dapat menerima penghasilan halal, yang terpenting adalah bisa berbakti pada masyarakat dan itu yang membuat kami bahagia,” ucap seorang Guru yang saya kenal. Beliau menuturkan pengalamannya ketika kami bertemu beberapa waktu lalu di sebuah perhelatan acara tentang Guru.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir


0 Responses So Far: