PropellerAds

Perhitungan Cepat Pemilihan Legeslatif Muba Terbaru


http://www.detik.com/

Untuk melihat hasil perhitungan cepat/Quick Count Pemilihan Calon Legeslatif DPRD Kabupaten Musi Banyuasin, dan DPRD Provinsi Sumatera Selatan selengkapnya dapat anda buka pada Link di bawah ini.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

Quick Count Pil Lek Kab. Muba Terbaru


http://www.detik.com/

Untuk melihat hasil perhitungan cepat/Quick Count Pemilihan Calon Legeslatif DPRD Kabupaten Musi Banyuasin, dan DPRD Provinsi Sumatera Selatan selengkapnya dapat anda buka pada Link di bawah ini.




Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

Atur Uang Anda Sekarang!


Untuk menciptakan masakan yang lezat, koki harus punya resep yang mumpuni dan kemampuan meracik bumbu maupun bahan baku.

Hal yang sama rupanya bisa juga diberlakukan untuk keuangan pribadi Anda. Itulah yang ingin dibagi Eko Endarto, RFA, dalam bukunya Koki Duit – 10 Resep Menguasai dan Mengolah Keuangan.

Penasaran? Simak saja resepnya berikut ini.
  • Cukup dan Mencukupkan. Hitung pengeluaran Anda untuk menentukan 'angka cukup,' lalu bagi penghasilan seperti ini: 75% untuk angka cukup dan 25% sisanya disisihkan. Lakukan ini walau gaji Anda meningkat. Keberhasilan keuangan bukan dari banyaknya uang, tetapi, bagaimana mencukupkannya.
  • Mulai dari Dalam. Kebanyakan orang memilih pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Tidak salah, tetapi mengapa tidak mencoba membenahi pengelolaan keuangan dari dalam terlebih dahulu lewat skala prioritas, sesuai proporsi. Jangan lupa pula awasi pengeluaran tak terencana.
  • Bukan Berapa, tetapi Apa. Belanja kebutuhan, bukan keinginan. Jadi betapa pun besarnya diskon, tanyakan apakah Anda membutuhkan barang tersebut. Belanja barang murah memang penghematan, tetapi penghematan yang tak bermanfaat adalah kesalahan.
  • Utang Pengurang Kekayaan. Berutang ternyata tak menambah kekayaan, tetapi justru menguranginya. Itu karena ada biaya tambahan, seperti suku bunga. Selain itu, juga dapat membuat kita kehilangan aset lain yang dijadikan jaminan.
  • Fokus ke Jumlah, Jangan ke Persentase. Dalam berutang, kita pasti dikenakan suku bunga yang dinyatakan dalam persentase. Hati-hati, persentase dapat menipu. Selalu konversikan dalam jumlah riil agar Anda benar-benar aware.
  • Keuntungan vs. Risiko. Dalam investasi, ada ungkapan high risk, high profit. Lalu, karena takut, apakah kita hanya berinvestasi "low risk" dan "low profit" saja? Sebetulnya yang terpenting adalah seberapa besar Anda mampu menerima risiko investasi. Nah, sebelum memulai, Anda perlu tahu tujuan investasi, produk dan profil risiko Anda.
  • Menabur Benih di Lahan Subur. Investasi itu mirip bercocok tanam. Bila Anda menaburkan benih di atas lahan yang subur, niscaya akan berkembang. Artinya, tempat di mana dan bagaimana Anda menginvestasikan uang itu sangat penting.
  • Ringan Sama Dijinjing. Anda harus melakukan diversifikasi investasi. Jangan mengandalkan hanya satu jenis investasi, tetapi minimalkan risiko dengan memecah tempat investasi dan melakukan penggabungan jenis investasi agar hasilnya optimal.
  • Berjaga-jagalah. Risiko tak dapat dipisahkan dari kodrat Anda sebagai manusia. Risiko pada diri sendiri, misalnya sakit atau kematian, dan risiko atas harta atau kekayaan. Oleh karena itu, Anda harus memiliki asuransi pribadi dan dana cadangan.
Bukan Untuk Kita, tetapi Untuk yang Kita Cintai. Resep terakhir, Anda harus selalu ingat bahwa tujuan akhir asuransi tak semata untuk Anda, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab kepada orang tercinta.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

5 Cara Cerdas Redakan Stres Karena Utang



Kekhawatiran soal uang dapat memicu tekanan mental dan fisik. Utang – salah satu soal keuangan – ternyata memberikan dampak yang kurang baik pada kesehatan mental dan fisik.

“Utang adalah salah satu penyebab stres dalam hidup yang tidak dapat hilang begitu saja,” ujar Kelly McGonigal, psikolog kesehatan dari Stanford University. “Yang bahaya dari utang adalah betapa kronis dan menyerapnya hal itu, Kebanyakan penyebab stres dalam hidup – kecelakaan mobil, perceraian, kematian anggota keluarga – terjadi, kemudian selesai. Tubuh kita didesain untuk merespon keadaan darurat ini, lalu bangkit kembali. Sementara berutang uang dapat menyebabkan Anda berada di posisi tidak dapat keluar.”

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki utang, pada umumnya membutuhkan perawatan kesehatan yang lebih. “Utang tak hanya buruk untuk kesehatan secara keseluruhan: Jumlah yang Anda khawatirkan, tapi pada saat yang sama ada perasaan tak berdaya,” ujar Kelly.

Namun kunci secara emosional, psikologis dan perilaku tentang bagaimana Anda mengambil keputusan finansial menunjukan ada cara yang sehat untuk mengatur dan menghabiskan uang. Yang ternyata juga mampu mengurangi secara signifikan rasa stres yang Anda alami.

Mempunyai pemahaman yang benar tentang uang. Menurut David Krueger, seorang pelatih keuangan dan mantan psikiater di Houston, Texas, kebanyakan dari kita menggunakan uang “mengatakan” siapa kita. “Anda memberikan uang makna untuk diri Anda, dan menggunakan uang setiap hari untuk menceritakan tentang diri Anda, misalnya soal kebebasan, kekuasaan, dan bukti kesuksesan atau sebagai jalan menuju kesempatan.” Identifikasikan hubungan Anda dengan uang, lalu gali lebih dalam apa saja nilai dari uang. Tanyakan kepada diri Anda: kenapa barang bermerek yang mahal begitu penting bagi imej saya? Mengapa memiliki uang sangat penting sampai-sampai saya harus bekerja sampai tengah malam? Hati-hati dengan jawaban Anda, dan tuliskan di selembar kertas jwaban tersebut. Hal ini akan membantu Anda memiliki pemikiran yang tepat tentang uang, di mana tahap awal adalah mengambil alih kembali kendali bagaimana Anda menghabiskannya. “Begitu pikiran Anda tepat, baru Anda dapat membuat sebuah rencana untuk menyelesaikan permasalahan,” tegas David.

Mengenali bahwa utang menciptakan kebebasan semu. “Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orang yang stres justru ingin mengambil lebih banyak utang untuk merasa berkuasa,” ujar Kelly. Jadi, sekalipun Anda telah menghabiskan limit kartu kredit, misalnya, Anda bakal merasakan kebebasan ketika berhasil menaikan limit kartu kredit tersebut, atau justru mendapatkan kartu kredit baru. Ini berkaitan dengan persepsi jangka pendek dan jangka panjang. “Memang benar Anda menambah utang, namun anda justru merasa memiliki sumber daya yang tersedia untuk Anda, dan pemikiran itu melegakan beberapa orang,” kata Kelly. Hati-hati dengan ilusi jangka pendek ini, dan pertimbangkan biaya di jangka panjang ketika meningkatkan limit kartu kredit, menambah kartu baru, bahkan membeli sesuatu dengan kredit.

Ciptakan “otot pengendalian diri”. Roy Baumeister, seorang spikolog sosial di Florida State University, baru-baru ini mempelajari disiplin mental dengan menggelar penelitian dan menunjukan bahwa kita harus memiliki energi yang kuat untuk mengendalikan diri. Dengan kata lain, kemampuan Anda untuk menahan keinginan berbelanja lama kelamaan bisa kelelahan. Namun anda tetap bisa memberikan dorongan. “Catat semua pengeluaran harian dengan menuliskan semuanya, dan pikirkan benar-benar angka yang menjadi hasil akhir,” ujar Kelly. “dengan melakukan hal tersebut dapat secara efektif melatih, dan dengan demikian memperkuat otot pengendalian diri Anda.”

Jangan berbelanja saat sedang ‘down’. Sebuah penelitian yang dimuat pada Journal of Experimental Social Psychology, menunjukkan bahwa kita senang berbelanja barang-baranag yang dapat menaikkan status, dan membeli barang mahal dengan kredit, terutama saat ego kita terancam – hal ini bisa disebabkan berbagai hal, dari melihat berita buruk di teve, sampai tidak mendapatkan promosi dalam pekerjaan. “Penjelasan ekonomi – bahwa orang membeli barang-barang mahal karena ingin mendapatkan sinyal positif tentang diri mereka terhadap orang lain – masih belum lengkap,” ujar penulis penelitian tersebut, Niro Sivanathan, asisten profesor perilaku berorganisasi di London Business School. Walau demikian, penelitian Niro menunjukkan tindakan membeli tiket mahal adalah untuk membuat si pembeli merasa nyaman. Namun, penulis juga menemukan obatnya: Ketika partisipan merefleksikan nilai-nilai yang nmenurut mereka penting, seperti hubungan kekeluargaan, kesehatan, dan eksistensi diri, keinginan untuk membeli barang-barang bagus menurun.

Hati-hati dengan sikap masa bodoh. Istilah lain dari sikap ini adalah “violation response”, dan intinya ini adalah kecenderungan untuk berbelanja lebih banyak untuk membuat seseorang merasa lebih baik karena berutang. “Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin Anda kewalahan, semakin anda merasa berbelanja dapat membuat perasaan lebih baik,” ujar Kelly. Tentu saja ini adalah lingkaran setan, karena penyesalan sesudah belanja menyebabkan stres. “Itu sebabnya sangat penting untuk memperhatikan respon Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan keuangan Anda. Bila Anda lebih memperhatikan dorongan emosional, maka Anda akan dapat menahan diri untuk membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak Anda perlukan,” tegas Kelly.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

10 Ciri Orang Bebas Utang


Bebas utang? Dalam kondisi perekonomian saat ini, menemukan orang yang bebas utang rasanya, kok, sulit, ya?

Namun menurut Len Penzo dari MoneyTalksNews.com, ada, lho, golongan tersebut. Berikut ini adalah cirinya:

  • Sangat detail. Mereka selalu memerhatikan dengan saksama kondisi keuangan mereka, dari jumlah penghasilan sampai ke mana saja pengeluaran dilakukan.
  • Utang = menggadaikan masa depan. Utang merupakan kesenangan instan di masa sekarang yang akan mengorbankan pendapatan masa depan.
  • Pragmatis. Mereka cenderung praktis. Karena serba praktis, mereka memahami nilai. Contohnya, mobil adalah alat untuk membawa dari titik A ke titik B, jadi kenapa harus beli mobil mewah?
  • Mengandalkan diri sendiri. Kebanyakan orang yang bekerja keras demi mempertahankan kehidupan dengan kebebasan keuangan, sangat percaya dengan kemampuan diri sendiri. Untuk itu, mereka berusaha hidup secukupnya, demi menabung uang sebanyak mungkin bagi masa depan.
  • Tidak gila belanja. Banyak orang yang doyan belanja, padahal tidak punya uang. Walau secara fisik tidak separah kecanduan alkohol atau narkoba, tetapi kecanduan belanja membuat orang sulit bebas utang.
  • Sabar. Mereka sabar sehingga bukan pembeli kompulsif. Kalau uang untuk membeli sesuatu tidak cukup, mereka akan menabung lagi dan menunggu.
  • Percaya diri. Mereka menolak diukur berdasarkan apa yang mereka miliki, sehingga mereka juga tak merasa mendapatkan tekanan untuk mengeluarkan uang hanya untuk mengikuti tren. Mereka paham bahwa hidup bukan soal kepemilikan dan pamer kekayaan
  • Mereka sadar kartu kredit adalah pedang bermata dua. Orang yang mampu mengendalikan keuangan tidak khawatir dengan kartu kredit. Mereka bahkan memanfaatkan keunggulan kartu kredit.
  • Percaya dengan tanggung jawab pribadi. Mereka yang bertanggung jawab secara keuangan menolak membuat alasan. Kalau mereka di-PHK, mereka tahu bahwa mereka bertanggung jawab untuk memiliki dana darurat. Kalau tidak, maka mereka tidak menyalahkan siapa-siapa, kecuali diri sendiri.
Tidak materialistis. Terdengar klise, tetapi orang yang bebas utang tahu benar bahwa uang bukan sumber utama kebahagiaan. Mereka cenderung hidup simpel, dan fokus kepada kebahagiaan keluarga ketimbang menumpuk harta dan kekayaan.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

10 Cara Mengatur Keuangan Setelah Menikah


Kalau Anda baru menikah, kami ucapkan selamat. Tapi jangan terpaku menjadi raja dan ratu semalam, karena pekerjaan rumah nan sulit membentang di depan mahligai perkawinan Anda. Salah langkah bisa runyam.

"Mengelola keuangan pada saat bujangan dan menikah sangatlah berbeda," kata Devino Rizki Arfan (www.devinorizki.com), seorang perencana keuangan independen. "Sebab, setelah menikah banyak perubahan pola pikir keuangan yang harus dilakukan."

Devino menyoroti berbagai hal yang berhubungan dengan keuangan, mulai dari berbagi rekening bank, menetapkan tujuan keuangan, asuransi , dan masih banyak lagi. Dan karena uang merupakan hal yang cukup emosional – dan salah satu penyebab utama perceraian – keberhasilan pernikahan Anda juga  ditentukan oleh kebiasaan keuangan yang Anda dan pasangan bangun sejak awal.

Untuk membangun permulaan yang baik, Devino membagi 10 langkah jitunya:

Mulai Menabung. Anda mungkin telah menghabiskan seluruh tabungan untuk melangsungkan pernikahan. Nah sekarang waktunya untuk membangun kembali. Sebagai awal, kumpulkan paling tidak sebanyak 6 bulan pengeluaran bulanan sebagai dana darurat. Selain itu mulai juga perencanaan pensiun Anda dari tempat kerja dengan menginvestasikan uang dalam portofolio yang terdiversifikasi sesuai dengan tujuan keuangan keluarga.

Ucapkan selamat tinggal pada rekening terpisah. Ketika telah menikah, uang bukan milikmu atau milikku, tapi milik berdua. Buatlah satu rekening giro atau tabungan untuk tujuan keuangan bersama.

Perbarui penerima manfaat. Ubah semua penerima manfaat pada polis asuransi, program pensiun, reksadana, dan surat berharga lainnya dengan nama pasangan Anda. Hal ini sebenarnya tidak mutlak dilakukan, terutama apabila Anda dan pasangan belum mempunyai anak. Namun terkadang sangat diperlukan, terutama apabila Anda tidak punya orang lain lagi untuk dipercaya.

Utang. Jika pasangan Anda belum tahu menahu tentang utang Anda, hal tersebut lebih baik dibicarakan. Dengan demikian Anda dapat memutuskan bagaimana Anda berdua akan melunasi pinjaman tersebut

Cari tahu ke mana uang Anda habis. Anda dan pasangan perlu bekerja sama untuk melacak pengeluaran keluarga. Lebih mudah untuk melakukan evaluasi dan mencapai tujuan keuangan bila Anda mengerti dengan saksama kemana saja uang dihabiskan dan bagaimana pola pengeluaran.

Buat kesepakatan tentang pengeluaran keluarga. Seperti layaknya lajang, Anda berdua pasti telah mendapatkan dan menghabiskan uang selama bertahun-tahun tanpa berkonsultasi pada siapa pun. Sayangnya hari-hari tersebut akan berakhir setelah menikah. Bisa dicoba untuk mendiskusikan dengan pasangan tentang pendekatan dan kebiasaan Anda untuk menangani uang. Apakah satu orang pemboros dan satu lagi hemat? Buatlah aturan untuk menangani perbedaan, mungkin menetapkan batas pengeluaran bulanan untuk setiap orang atau menjanjikan untuk menyimpan sejumlah tertentu setiap bulan untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Prioritaskan pembelian. Bagian dari menikah berarti bersama-sama memutuskan bagaimana membelanjakan uang Anda. Buatlah daftar pembelian yang akan datang – biaya sekolah anak, rumah, mobil, furnitur ruangan atau hewan peliharaan - dan memprioritaskan mereka daripada pengeluaran lain.

Konsolidasi kartu kredit Anda. Hindari memiliki kartu kredit lebih dari yang Anda butuhkan. Hal ini juga membuat lebih mudah untuk melacak pengeluaran rumah tangga.

Beli asuransi jiwa. Jika pendapatan Anda berdua dipakai untuk membayar pengeluaran bulanan Anda - dan sebagian besar pasangan melakukan - pastikan Anda berdua memiliki asuransi jiwa yang cukup untuk saling melindungi. Hal ini mutlak dilakukan apabila Anda berdua sudah mempunyai tanggungan, misalnya anak atau orang tua.

Mengatur dokumen. Pastikan Anda berdua tahu di mana dokumen penting disimpan. Ini termasuk akte kelahiran dan pernikahan, kartu Jaminan Sosial, bank dan informasi rekening investasi, dan catatan pajak. Hal ini memudahkan kita untuk mencari dokumen tersebut saat dibutuhkan.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir

Tanda-Tanda Anda Terjebak Hutang


Mengakui bahwa Anda terlilit utang ternyata bukan hal yang simpel. Mungkin karena gengsi – bagi banyak orang dan budaya berutang dianggap hal yang tidak layak, atau memang karena Anda merasa benar-benar tidak punya masalah dengan utang yang menggunung.

Kenyataannya, semakin lama Anda menolak mengakui memiliki masalah dengan utang, semakin dalam Anda tenggelam di kubangan utang. Sehingga, pada saat utang menggunung, Anda pun tenggelam di bawahnya. Pada saat itu justru jalan-jalan yang bisa meringankan beban utang Anda seakan buntu.

Coba baca daftar di bawah ini. Bila kebanyakan jawaban Anda ‘Iya’, maka Anda sudah terjebak di kubangan utang, dan segeralah mencari pertolongan:
  1. Tagihan kartu kredit Anda membumbung tinggi sementara penghasilan Anda berkurang.
  2. Anda hanya mampu membayar tagihan minimum utang kartu kredit, atau bahkan di bawah minimum.
  3. Anda mulai berakrobat dengan membuka utang baru untuk menutupi utang lama.
  4. Anda punya banyaksekali kartu kredit.
  5. Tagihan semua kartu kredit sudah mendekati limit atau bahkan over limit.
  6. Penggunaan kartu kredit Anda tiap bulan melebihi apa yang bisa Anda bayar.
  7. Anda sengaja lembur bekerja atau mencari pekerjaan sampingan untuk melunasi utang.
  8. Anda tidak tahu berapa jumlah utang Anda, dan tidak mau tahu.
  9. Anda mulai menerima panggilan telepon dari penagih atau surat peringatan dari kreditur.
  10. Anda memakai kartu kredit untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan dan bensin, bukan karena kenyamanan dan keamanan, melainkan tidak punya uang tunai.
  11. Anda mulai membongkar tabungan.
  12. Anda berbohong kepada pasangan tentang harga barang yang Anda beli.



Karya John Ady Susilo Tenaga Pendidik SDN4 Bayung Lencir